Bahlil Dorong Lagi Konversi Motor Bensin ke Listrik, Realistis?
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyebut program konversi sebenarnya sudah berjalan beberapa tahun terakhir dan terus ditingkatkan.

OTORIDER - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran baru terhadap pasokan energi dunia.
Konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran membuat jalur pelayaran energi strategis di Selat Hormuz menjadi tidak stabil, bahkan sempat dilaporkan ditutup oleh pasukan Iran. Situasi ini membuat distribusi minyak dunia terganggu dan memicu kekhawatiran krisis energi global.
Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, kondisi tersebut tentu menjadi alarm serius. Pemerintah bahkan langsung mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat untuk menjaga pasokan energi nasional tetap aman.
Di tengah ancaman krisis bahan bakar tersebut, pemerintah kembali menggenjot program konversi sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik.
Target Konversi Makin Agresif
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyebut program konversi sebenarnya sudah berjalan beberapa tahun terakhir. Dirinya menyebutkan sekitar 200 ribu unit motor dikonversi setiap tahun.
Namun ke depan, target tersebut berpotensi melonjak drastis. Pemerintah bahkan menyiapkan skenario konversi hingga jutaan unit motor per tahun, seiring perkembangan teknologi yang membuat biaya konversi semakin murah.

“Sekarang teknologinya sudah mulai ada dan lebih murah. Jadi mungkin bisa sekitar 4 sampai 6 juta unit per tahun,” ujar Bahlil dalam keterangan resminya.
Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi transisi energi sekaligus upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap BBM impor.
Realisasi Masih Jauh dari Harapan
Meski terdengar ambisius, realisasi program konversi sejauh ini masih jauh dari target. Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bantuan insentif konversi pada 2024 hanya tersalurkan sebanyak 1.111 unit.
Jumlah ini memang meningkat dibanding realisasi pada 2023 yang hanya mencapai 145 unit, namun masih sangat kecil jika dibandingkan target ratusan ribu unit per tahun.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, sebelumnya mengakui bahwa minat masyarakat terhadap program konversi masih rendah.
Biaya dan Keraguan Konsumen
Salah satu kendala terbesar adalah biaya konversi yang dianggap masih mahal. Walaupun pemerintah telah memberikan insentif, total biaya yang harus dikeluarkan konsumen sering kali tetap dinilai tidak sebanding dengan nilai motor lama yang dimiliki.
Selain itu, banyak pengguna motor juga masih meragukan aspek kepraktisan motor hasil konversi, mulai dari daya tahan baterai hingga kemudahan pengisian daya.

Padahal secara prosedur, proses konversi sebenarnya cukup sederhana. Pendaftaran dilakukan secara online melalui situs resmi EBTKE, kemudian motor akan menjalani pengecekan kondisi di bengkel yang telah tersertifikasi sebelum proses konversi dilakukan.
Program Lama, Tantangan Lama
Upaya konversi motor bensin ke listrik sebenarnya bukan program baru. Pemerintah sudah mendorongnya sejak beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari agenda elektrifikasi kendaraan.
Namun tanpa skema insentif yang lebih menarik serta biaya konversi yang benar-benar terjangkau, program ini berisiko kembali berjalan di tempat. (*)










