BBM Campur Bioetanol 5 Persen Mulai Semester II 2026, Apakah Aman untuk Tangki Bensin?

Dipublikasikan : Jumat, 5 Juni 2026 07:35

Pemerintah mewajibkan BBM campur bioetanol 5 persen mulai semester II 2026. Apakah aman untuk tangki bensin kendaraan? Simak penjelasan ahli ITB.

BBM Campur Bioetanol 5 Persen Mulai Semester II 2026, Apakah Aman untuk Tangki Bensin?
BBM Pertamax Green dengan campuran etanol (Foto : Otorider)
Otorider hadir di WhatsApp Channel Follow

OTORDER - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mewajibkan seluruh badan usaha penyedia bahan bakar minyak (BBM) atau SPBU mencampurkan bioetanol sebesar 5 persen ke dalam bensin mulai semester II 2026. Kebijakan ini berlaku untuk BBM non-public service obligation (non-PSO) atau BBM non-subsidi dan akan diterapkan di seluruh wilayah Pulau Jawa.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari implementasi program pemanfaatan energi baru terbarukan di sektor transportasi.

“Jadi untuk semester II tahun 2026 ini, seluruh badan usaha BBM wajib melakukan pencampuran. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025,” ujar Eniya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Kebijakan pencampuran bioetanol ini memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan masyarakat, terutama terkait dampaknya terhadap kendaraan, khususnya tangki bensin dan komponen mesin yang berbahan logam.

Benarkah Bioetanol Bisa Menyebabkan Tangki Bensin Berkarat?

Salah satu kekhawatiran yang banyak beredar adalah anggapan bahwa bioetanol dapat memicu karat pada tangki bensin dan mesin kendaraan jika digunakan dalam jangka panjang.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Ing. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Staf Pengajar Program Studi Teknik Mesin Kelompok Keahlian Ilmu Rekayasa Thermal Institut Teknologi Bandung (ITB), memberikan penjelasan berdasarkan aspek teknis dan ilmiah.

Dalam RAMO Podcast yang tayang di kanal YouTube Otorider, Tri menjelaskan bahwa etanol memang dapat bereaksi dengan beberapa jenis pelapis antikarat tertentu yang mengandung timbal.

Menurutnya, reaksi tersebut berpotensi membuat lapisan pelindung menjadi rapuh atau mengelupas sehingga bagian logam lebih mudah terpapar oksigen dan berisiko mengalami korosi.

“Karena etanol itu akan bereaksi dengan pelapis antikarat yang ada di tangki kalau mengandung timbal. Karena dia akan mengoksidasi timbalnya baik menjadi rapuh atau ngelupas, sehingga akhirnya ada oksigen yang langsung bereaksi dengan bajanya dan menimbulkan karat,” jelas Tri.

Penyebab Karat Bukan Etanol, Melainkan Air

Meski demikian, Tri menegaskan bahwa etanol bukan penyebab utama munculnya karat pada tangki bensin kendaraan.

Ia menjelaskan bahwa bioetanol memiliki sifat higroskopis, yaitu mampu menyerap kelembapan atau air dari udara sekitar. Ketika kandungan air dalam bahan bakar meningkat, air tersebut dapat bereaksi dengan logam pada tangki maupun sistem bahan bakar sehingga memicu korosi.

“Sebetulnya yang menimbulkan karat bukan etanol, tapi karena sifat etanol yang higroskopis, menyerap air yang ada di udara. Nah, karena ada air di dalam tangkinya, maka itulah yang bereaksi,” ujarnya.

Dengan kata lain, risiko karat lebih dipengaruhi oleh keberadaan air dalam sistem bahan bakar dibandingkan kandungan etanol itu sendiri.

Apakah BBM Bioetanol E5 Aman untuk Kendaraan?

Pencampuran bioetanol sebesar 5 persen atau yang dikenal sebagai E5 sebenarnya termasuk kadar yang relatif rendah dan telah digunakan di berbagai negara sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi karbon serta ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Pada kendaraan modern, penggunaan BBM dengan campuran etanol rendah umumnya tidak menimbulkan masalah berarti karena sistem bahan bakar sudah dirancang untuk mengakomodasi kandungan etanol dalam jumlah tertentu.

Namun, pemilik kendaraan tetap disarankan untuk menjaga kondisi tangki bahan bakar, menghindari penyimpanan BBM terlalu lama, serta melakukan perawatan berkala guna meminimalkan risiko terbentuknya endapan air yang dapat memicu korosi.

Dengan mulai diterapkannya program bioetanol 5 persen pada semester II 2026, masyarakat diharapkan memahami bahwa risiko karat pada tangki bensin bukan berasal langsung dari etanol, melainkan dari kandungan air yang dapat terserap akibat sifat higroskopis bahan bakar tersebut. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan terbaru setiap hari dari otorider.com. Ikuti Channel kami pada tombol dibawah ini.
Telegram Channel
Google News
Telah hadir! Yuk download aplikasi Otorider sekarang juga!
Bagikan  

Video

Tetap Terhubung Bersama Kami
Telah hadir! Yuk download aplikasi Otorider sekarang juga!
Hubungi Kami
Perkantoran Maisonete Mega Jalan Raya Joglo No. 41 Kebon Jeruk, Kembangan, Kota Jakarta Barat, Jakarta 11640
Email :
[email protected] (Redaksi)
[email protected] (Marketing)
OTORIDER.com Member of : Logo Bintang Langit Multimedia
Copyright © 2026. Otorider.com. All rights reserved.