Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Konflik AS vs Iran, Saatnya Beralih ke Motor Listrik?
Harga minyak dunia melonjak hingga USD117 per barel akibat konflik AS, Israel, dan Iran. Pemerintah membuka peluang kenaikan BBM, sementara motor listrik dinilai lebih hemat biaya operasional.

OTORIDER - Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Asia, Senin (9/3/2026), setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Lonjakan ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga energi global, termasuk potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia.
Mengutip Investing, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Mei 2026 melonjak lebih dari 25 persen hingga mencapai puncak sekitar USD117,16 per barel. Kenaikan drastis tersebut dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia.
Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak dunia hingga kisaran USD90–92 per barel saja sudah dapat memberikan tekanan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, salah satu dampak yang paling krusial adalah potensi perubahan harga BBM di dalam negeri. Hal ini akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan anggaran pemerintah dalam menahan beban subsidi energi.
“Kalau memang anggarannya enggak kuat sekali, enggak ada jalan lain ya kita share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM,” ujar Purbaya dikutip Senin (9/2/2026).
Istilah sharing atau berbagi beban dengan masyarakat disebut sebagai opsi terakhir apabila tekanan anggaran semakin berat akibat kenaikan harga minyak global.
Motor listrik bisa jadi solusi?
Kondisi tersebut membuat banyak pihak mulai melirik kendaraan listrik sebagai alternatif yang lebih hemat biaya operasional, khususnya sepeda motor listrik.
Dengan menggunakan motor listrik, pengeluaran harian untuk energi dapat ditekan cukup signifikan. Biaya pengisian daya listrik umumnya jauh lebih murah dibandingkan membeli bensin, terutama jika harga BBM terus mengalami kenaikan.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan Polytron, dengan asumsi penggunaan harian sejauh 60 kilometer selama 30 hari dalam sebulan, total jarak tempuh per tahun bisa mencapai lebih dari 21.000 kilometer.
Dalam skenario tersebut, motor listrik Polytron diperkirakan hanya membutuhkan biaya:
- Rp 885.600 per tahun untuk pengisian daya listrik
- Rp 50.000 untuk perpanjangan STNK
- Rp 0 untuk biaya servis berkala
Total biaya operasional tahunan diperkirakan hanya sekitar Rp 935.600.
Sebagai perbandingan, motor konvensional dengan bahan bakar RON 90 membutuhkan biaya yang jauh lebih besar, yakni:
- Rp 4.320.000 untuk bensin per tahun
- Rp 320.000 untuk perpanjangan STNK
- Rp 720.000 untuk servis rutin
Total biaya tahunan motor berbahan bakar bensin bisa mencapai sekitar Rp 5.360.000.
“Perawatan motor listrik jauh lebih praktis dan ekonomis. Tanpa oli, tanpa busi, dan tanpa rantai mesin yang rumit,” ujar Head of Group Product Electric Vehicle 2W Polytron, Ilman Fachrian Fadly.
Masih ada tantangan
Meski menawarkan biaya operasional yang lebih rendah, motor listrik juga memiliki sejumlah tantangan yang masih menjadi perhatian konsumen.
Salah satu yang paling sering dikeluhkan adalah kekhawatiran soal sisa daya baterai saat berkendara. Beberapa pengguna mengaku masih mengalami range anxiety, yakni rasa khawatir energi baterai tidak cukup untuk mencapai tujuan, meskipun saat ini sudah tersedia teknologi pengisian cepat (fast charging).
Selain itu, harga baterai juga masih tergolong mahal. Sebagai contoh, baterai 72V 52Ah milik motor listrik Polytron memiliki nilai sekitar Rp17,5 juta. Namun, Polytron menawarkan skema berlangganan baterai dengan biaya sekitar Rp200 ribu per bulan. Melalui program tersebut, pengguna juga mendapatkan garansi baterai seumur hidup selama masa berlangganan masih aktif.
Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, motor listrik kini mulai dipertimbangkan sebagai solusi transportasi yang lebih hemat di tengah potensi kenaikan harga BBM akibat lonjakan harga minyak dunia. (*)







_2024_6fk5.webp)


