Pendidikan Keselamatan Berlalu Lintas Penting Diajarkan Sejak Dini, Ini Alasannya
Pendidikan keselamatan berlalu lintas dinilai penting untuk menekan angka kecelakaan di Indonesia. Data menunjukkan korban terbesar berasal dari usia 15–24 tahun akibat kelalaian pengemudi.

OTORIDER - Pendidikan keselamatan berlalu lintas menjadi langkah strategis dalam menekan angka kecelakaan di Indonesia. Tidak hanya sebatas teori, pembelajaran ini perlu dikemas secara komprehensif melalui praktik langsung agar siswa mampu memahami situasi nyata di jalan raya.
Pentingnya Pendidikan Tidak Hanya Teori
Selama ini, pendidikan keselamatan berlalu lintas umumnya hanya berfokus pada pengenalan rambu-rambu, etika berkendara, serta aturan dasar di jalan. Padahal, pendekatan tersebut dinilai belum cukup efektif dalam membentuk perilaku berkendara yang aman.
Dengan adanya simulasi dan kegiatan praktik, siswa dapat lebih memahami risiko di jalan serta bagaimana mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai kondisi lalu lintas.
Angka Kecelakaan Tinggi Didominasi Usia Muda
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarnon, mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menghadapi tantangan besar terkait tingginya angka kecelakaan lalu lintas.
“Indonesia sedang menghadapi tantangan besar dengan tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Korban kecelakaan terbesar pada usia 15–19 tahun (24 persen) dan usia 20–24 tahun (20 persen),” ujarnya saat dihubunig Otorider.
Data tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia produktif justru menjadi yang paling rentan terhadap kecelakaan di jalan raya.
Faktor Penyebab Kecelakaan Didominasi Kelalaian
Djoko menjelaskan bahwa perilaku pengemudi menjadi penyebab utama kecelakaan. Gagal menjaga jarak menjadi faktor terbesar dengan persentase 24,50 persen.
Selain itu, kecelakaan juga disebabkan oleh berbagai bentuk kelalaian lain seperti ceroboh terhadap lalu lintas (20,76 persen), kesalahan saat berbelok (11,6 persen), pelanggaran aturan lajur (9,53 persen), ceroboh saat menyalip (8,22 persen), hingga melampaui batas kecepatan (7,62 persen).
Hal ini memperlihatkan bahwa rendahnya kesadaran dan disiplin berkendara masih menjadi persoalan utama.
Kurikulum Keselamatan Berlalu Lintas Jadi Solusi
Menurut Djoko, Indonesia belum terlambat untuk memasukkan pendidikan keselamatan berlalu lintas ke dalam kurikulum pendidikan formal.
“Adanya kurikulum pendidikan keselamatan berlalu lintas adalah untuk membangun kesadaran dan etika berlalu lintas sejak dini,” jelasnya.
Dengan kurikulum yang terstruktur, siswa tidak hanya memahami aturan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menuju Generasi Sadar Keselamatan
Penerapan pendidikan keselamatan berlalu lintas sejak dini diharapkan mampu membentuk generasi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan peduli terhadap keselamatan di jalan.
“Tujuan akhirnya adalah untuk membangun generasi sadar keselamatan berlalu lintas sejak dini, sebagai langkah awal menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Djoko.
Dengan meningkatnya jumlah kendaraan dan mobilitas masyarakat, pendidikan keselamatan berlalu lintas menjadi kebutuhan mendesak. Jika diterapkan secara konsisten, langkah ini diyakini dapat menciptakan budaya berkendara yang lebih aman serta menekan angka kecelakaan di Indonesia. (*)










