Pertalite Jadi Alternatif Saat Pertamax Naik, Pengguna Motor Wajib Cermati Spesifikasi Mesin
Harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter sementara Pertalite tetap Rp10.000. Apakah motor bisa beralih ke Pertalite?

OTORIDER - Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter membuat banyak pemilik sepeda motor mulai mempertimbangkan untuk beralih ke Pertalite yang hingga saat ini masih dijual Rp10.000 per liter. Namun, sebelum memutuskan mengganti jenis bahan bakar, pengguna motor perlu memahami kebutuhan oktan atau RON yang sesuai dengan spesifikasi mesin.
Perbedaan harga yang cukup signifikan memang membuat Pertalite (RON 90) menjadi alternatif yang lebih ekonomis. Meski demikian, penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai dengan rasio kompresi mesin berpotensi menimbulkan berbagai masalah jika dilakukan dalam jangka panjang.
Menurut Ferry Nurul Fajar, Service Education PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), pemilihan bahan bakar harus disesuaikan dengan rasio kompresi mesin agar performa dan keawetan mesin tetap terjaga.
“Penggunaan BBM harus disesuaikan dengan rasio kompresi mesin. Semakin tinggi angka rasio kompresi, maka semakin tinggi pula nilai oktan yang dibutuhkan,” jelas Ferry kepada Otorider.
Ia menegaskan bahwa penggunaan bahan bakar dengan nilai oktan yang lebih rendah dari rekomendasi pabrikan dapat memengaruhi kinerja mesin. Dalam kondisi tertentu, gejala seperti knocking atau ngelitik bisa muncul akibat pembakaran yang tidak sempurna.
Mengapa Rasio Kompresi Menentukan Pilihan BBM?
Rasio kompresi merupakan perbandingan volume ruang bakar saat piston berada di titik terendah dan tertinggi. Semakin tinggi rasio kompresi, semakin besar tekanan yang terjadi di ruang bakar.
Karena itu, mesin dengan rasio kompresi tinggi membutuhkan bahan bakar beroktan lebih tinggi agar pembakaran berlangsung optimal dan tidak terjadi detonasi dini.
Dampak Jika Motor Berkompresi Tinggi Menggunakan Pertalite
Meski motor modern masih dapat berjalan menggunakan Pertalite, penggunaan dalam jangka panjang pada mesin yang membutuhkan RON lebih tinggi berisiko menimbulkan beberapa dampak, antara lain:
- Muncul gejala knocking atau mesin ngelitik.
- Performa mesin menurun.
- Konsumsi bahan bakar menjadi kurang efisien.
- Timbunan karbon di ruang bakar lebih cepat terbentuk.
- Berpotensi memengaruhi usia komponen mesin dalam jangka panjang.
Ferry kembali mengingatkan bahwa pemilik kendaraan sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan harga bahan bakar, tetapi juga kebutuhan teknis mesin.
“Penggunaan BBM harus disesuaikan dengan rasio kompresi mesin. Makin tinggi angka rasio kompresi, maka semakin tinggi pula nilai oktan yang dibutuhkan,” papar Ferry.
Dengan harga Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter dan Pertalite tetap Rp10.000 per liter, banyak pengguna motor memang tergoda untuk beralih ke BBM yang lebih murah. Namun, keputusan tersebut sebaiknya didasarkan pada spesifikasi mesin kendaraan.
Bagi motor dengan rasio kompresi yang memang direkomendasikan menggunakan RON 92, tetap memakai Pertamax atau bahan bakar setara menjadi pilihan yang lebih aman untuk menjaga performa, efisiensi, dan keawetan mesin dalam jangka panjang. (*)











