Kesiapan Pabrikan AISI Produksi Motor Listrik Masih Beragam, Pasar Dinilai Belum Matang
Dari lima anggota AISI, baru tiga pabrikan yang telah memasarkan motor listrik secara resmi di Indonesia, yakni Honda, Kawasaki, dan TVS.

OTORIDER – Wacana pemerintah yang akan memprioritaskan produksi sepeda motor listrik untuk pasar domestik, sementara motor bensin diarahkan ke pasar ekspor ternyata masih butuh proses yang sangat panjang.
Setidaknya hal ini yang tercermin dari data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI). Di mana hingga April 2026, belum semua pabrikan besar siap menjalankan skema tersebut secara penuh.
Dari lima anggota AISI, baru tiga pabrikan yang telah memasarkan motor listrik secara resmi di Indonesia, yakni Honda, Kawasaki, dan TVS.
PT Astra Honda Motor saat ini menjual tiga model motor listrik, yakni Honda CUV e:, ICON e:, dan EM1 e:. Namun penjualan motor listrik Honda disebut masih jauh di bawah model bermesin bensin. Bahkan untuk mendongkrak permintaan, Honda memberikan diskon besar sepanjang April 2026.
Honda ICON e: mendapat potongan angsuran hingga Rp 6 juta untuk pembelian kredit, sementara Honda CUV e: didiskon hingga Rp 24,087 juta, membuat harga efektifnya turun ke kisaran Rp 30 jutaan dari banderol awal Rp 54,45 juta.

Langkah serupa juga dilakukan pabrikan lain. TVS sebelumnya memangkas harga iQube S secara permanen dari Rp 52 juta menjadi Rp 29,9 juta. Sedangkan Kawasaki memberikan diskon besar hingga Rp 50 jutaan untuk Ninja e-1 dan Z e-1 yang semula dipasarkan di atas Rp 140 juta.
Meski demikian, belum tersedia data penjualan detail motor listrik dari masing-masing pabrikan tersebut. Namun secara umum, kontribusinya masih jauh tertinggal dibanding model bermesin bensin.
Sementara itu, dua anggota AISI lainnya, Yamaha dan Suzuki, belum menjual motor listrik secara massal di pasar domestik.
PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing masih menjalankan studi pasar dan pengujian terhadap motor listrik E01 serta Neos melalui program proof of concept yang berlangsung sejak 2022.
Yamaha mengaku masih menunggu kesiapan pasar dan infrastruktur pendukung sebelum benar-benar meluncurkan produk listrik.

“Itu proyek prinsipal, Yamaha Jepang dan kami di Indonesia hadir mendukung proyek tersebut,” ujar Rifki Maulana, Manager Public Relation YRA & Community PT Yamaha Indonesia Motor Mfg.
Adapun PT Suzuki Indomobil Sales juga belum memiliki lini motor listrik di Indonesia. Suzuki menyatakan fokus perusahaan saat ini masih pada penguatan penjualan model bermesin bensin yang sudah ada.
“Motor listrik tahun ini kami fokus pada pemasaran produk existing terlebih dahulu, mengingat model baru kami tersebut juga baru diluncurkan pada akhir tahun,” ujar Hendrawan, Head of 2W Export Sales & Sales Support Section PT Suzuki Indomobil Sales.
Secara umum, para pabrikan besar masih menilai pasar motor listrik roda dua di Indonesia belum cukup besar untuk menjadi tulang punggung bisnis utama.
Selain volume pasar yang masih kecil, mereka juga harus menghadapi persaingan dari merek-merek baru yang lebih agresif membangun ekosistem kendaraan listrik, termasuk jaringan SPKLU dan fast charging station.

Di sisi lain, struktur pasar roda dua nasional saat ini juga menunjukkan dominasi penjualan domestik untuk motor bensin masih sangat kuat. Berdasarkan data AISI periode Januari–Maret 2026, pasar domestik menyerap 1.614.091 unit sepeda motor. Angka tersebut jauh lebih besar dibanding ekspor utuh (CBU) yang hanya mencapai 159.582 unit.
Sementara ekspor dalam bentuk terurai (CKD) tercatat 1.798.558 unit, dengan ekspor komponen mencapai 35.907.335 pieces.
Melihat kondisi tersebut, transisi menuju skema produksi motor listrik untuk pasar domestik dan motor bensin untuk ekspor dinilai masih membutuhkan waktu serta kesiapan industri yang lebih matang, baik dari sisi pabrikan, infrastruktur, maupun penerimaan pasar. (*)










