Pegiat Kendaraan Listrik : Satgas Energi Target 120 juta Motor Konversi? Tidak Mungkin
Rencana pemerintah membuat Satgas Energi untuk mempercepat proses implementasi energi baru dan terbarukan, apakah mungkin?

OTORIDER – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, mengumumkan pembentukan satuan tugas (Satgas) percepatan implementasi energi baru dan terbarukan.
Dikutip dari Kompas.com, tim ini dibentuk setelah rapat terbatas dengan Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Kami baru selesai melakukan rapat terbatas dengan presiden yang pembahasannya lebih pada implementasi energi bersih dan terbarukan, termasuk kaitannya dengan percepatan kit konversi dari kendaraan bermotor kita yang 120 juta memakai bensin, kita coba bertahap konversi ke motor listrik,” kata Bahlil dikutip dari video Youtube Sekretariat Presiden Jumat (6/3).
Ia juga mengatakan, presiden ingin implementasi program tersebut dilakukan dalam waktu yang tidak lama. Bahkan target percepatan yang disampaikan maksimal dalam tiga hingga empat tahun.
Menanggapi hal tersebut Otorider menghubungi Farman Bahar, pegiat kendaraan listrik yang kerap melakukan konversi, modifikasi dan upgrade kendaraan bermotor listrik.
“120 juta unit dalam 4 tahun, artinya 30 juta konversi setahun, artinya per bulan 2.5 juta unit, per hari 83 ribu unit. Jumlah segitu pasti awalnya mengincar B2B (Business to business) dengan pemerintah, Karena gak mungkin rakyat biasa mau beli,” katanya, saat dihubung Otorider.
Ia juga mengatakan, dulu juga dengan subsidi Rp 10 juta gagal, karena harus memiliki surat-surat lengkap dan mesin aslinya diambil. “Lantas spesifikasi mesin konversinya tidak enak,” ungkapnya.
Menurutnya dana tersebut sebaiknya digunakan untuk mendorong penjualan motor listrik, karena jika digunakan untuk konversi, bengkel yang siap melakukannya belum banyak. “Boleh dibilang pelaku konversinya hanya itu-itu saja,” terangnya.
Memang, beberapa bengkel seperti Elders, Nagara, BRT dan lainnya, sudah ada yang melakukan konversi, tetapi tentunya belum banyak.
Farman pun menganalogikan, dengan target 83 ribu unit per hari, bengkel mana yang sanggup mengerjakannya, jika bukan skala pabrikan?
Lantas ia pun menyebut pangkal permasalahannya, belum ada market yang jelas tentang konversi motor ICE menjadi elektrik ini. “Serapan pasarnya belum ada. Jika pun (dipaksa) ada, tentunya harus dengan instansi pemerintah, yang menggunakan motor konversi itu sebagai sarana kendaraan dinasnya,” ungkap lelaki berdarah Makassar itu. (*)







_2024_6fk5.webp)


