Presiden Prabowo Bentuk Satgas Percepatan 120 Juta Konversi Motor Listrik
Presiden Prabowo Subianto membentuk Satgas percepatan konversi 120 juta motor konvensional menjadi motor listrik dengan target rampung dalam 3–4 tahun.

OTORIDER - Pemerintah Indonesia akan membentuk satuan tugas (satgas) untuk mempercepat program konversi 120 juta sepeda motor konvensional berbahan bakar minyak (BBM) menjadi motor bermesin baterai listrik. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar transisi energi nasional sekaligus upaya menekan emisi karbon dari sektor transportasi.
Target Ambisius 120 Juta Motor Listrik
Kebijakan ini disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Menurut Bahlil, Satgas dibentuk langsung oleh Presiden untuk mempercepat transformasi kendaraan bermotor berbahan bakar minyak (BBM) yang jumlahnya mencapai sekitar 120 juta unit menjadi motor berbasis baterai listrik.
“Bapak Presiden membentuk tim Satgas untuk bisa melakukan percepatan ini. Dan tadi kami diberikan tugas oleh Bapak Presiden sebagai Ketua Satgas dalam menjalankan dan menerjemahkan secara cepat,” ujar Bahlil dikutip dari Antara.
Target Implementasi Maksimal 4 Tahun
Presiden Prabowo, kata Bahlil, menargetkan implementasi program konversi motor listrik ini dapat berjalan maksimal dalam waktu tiga hingga empat tahun. Bahkan, Presiden berharap realisasinya bisa lebih cepat dari target tersebut.
“Bapak Presiden sangat berkeinginan untuk implementasinya dilakukan segera dan insya Allah kita akan melakukan dalam kurun waktu yang tidak lama. Bapak Presiden tadi menyampaikan bahwa maksimal 3 sampai 4 tahun, bahkan kalau bisa lebih cepat lagi,” jelasnya.
Target ambisius ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap BBM, sekaligus menekan emisi karbon dari sektor transportasi yang selama ini menjadi salah satu penyumbang polusi terbesar.
Mengulang Program Subsidi Sebelumnya
Sebelumnya, pemerintah sempat menggulirkan program subsidi konversi motor listrik sebanyak 200 ribu unit yang berakhir pada 2024. Dalam program tersebut, masyarakat mendapatkan bantuan sebesar Rp 7 juta hingga Rp 10 juta per unit.
Namun, skema subsidi tersebut dinilai kurang optimal dalam menarik minat masyarakat. Realisasi konversi tidak mencapai target maksimal, sehingga program itu tidak dilanjutkan pada tahun berikutnya.
Minimnya minat disebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari persepsi masyarakat terhadap performa motor listrik, keterbatasan bengkel konversi tersertifikasi, hingga pertimbangan biaya tambahan di luar subsidi.
Subsidi Baru Lebih Murah, Teknologi Makin Efisien
Dalam skema terbaru yang tengah disiapkan, Bahlil menyebut nilai subsidi konversi kemungkinan lebih kecil dibanding sebelumnya. Hal ini karena biaya teknologi dinilai semakin murah dan efisien.
Ia memperkirakan bantuan subsidi konversi motor listrik ke depan berada di kisaran Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per unit. “Tapi sekarang kan sudah mulai ada teknologi yang lebih murah, jadi mungkin sekitar Rp 5 - 6 juta, jadi ke sini semakin murah,” papar Bahlil.
Penyesuaian nilai subsidi ini diharapkan tetap menarik bagi masyarakat, sekaligus lebih efisien dari sisi anggaran negara.
Fokus Percepatan dan Ekosistem Pendukung
Jika program konversi ini berjalan, diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hijau, membuka lapangan kerja baru di sektor otomotif listrik, serta mempercepat tercapainya target net zero emission Indonesia.
Jika target 120 juta konversi motor listrik dapat direalisasikan dalam 3–4 tahun, Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara dengan populasi kendaraan listrik roda dua terbesar di dunia. (*)










