Janggal, Pembalap Yamaha Bungkam Setelah Balap di Buriram, Ada Apa?
Tak seperti biasanya banyak pembalap yang berbagi kisah dengan para pewarta, kali ini rider dari kubu Garputala memilih bungkam seribu Bahasa.

OTORIDER- Dari beberapa hal yang terlihat di Thailand, beberapa waktu lalu, ada yang mungkin membuat kubu Yamaha memilih untuk bungkam.
Memang, sejak digadang-gadang akan menggunakan mesin baru, Yamaha V4 seluruh orang di pabrikan Iwata itu terkonsentrasi penuh akan hal tersebut.
Namun apa yang menjadi kenyataan, adalah pil pahit yang harus ditelan berdasarkan hasil yang diperoleh dari Sirkuit Chang, di Buriram, Thailand itu.
Seperti halnya balapan, adalah menjadi yang paling terdepan di antara sesama pemacu kuda besi di lintasan yang sama.
Tetapi, alih-alih terdepan, keempat penunggang Yamaha berada di posisi buncit, yaitu empat yang berada di buntut. Fabio Quartararo, Alex Rins, Toprak Ratzgatlioglu dan Jack Miller, menempati posisi empat dari enam terbelakang.
Fabio Quartararo, berhasil finish pada posisi ke-14, hanya meraih 2 point. Itu pun tertolong beberapa pembalap DNF, seperti Marc, Alex Marquez dan Joan Mir, sementara dibandingkan peraih podium utama, Marco Bezzecchi, ia berada 30,8 detik di belakang rider Aprilia itu.
Tetapi hal yang paling krusial adalah kecepatan tertinggi yang bisa dikembangkan oleh mesin V4 Yamaha itu masih belum kompetitif. Aprilia dan Ducati bisa mencapat kecepatan tertinggi/top speed 345 km/jam, sedangkan Yamaha V4 336,4 km/jam oleh Rins, Toprak maupun Miller. Sementara Quartararo 338,5 km/jam. Masih jauh tertinggal dari Honda yang ditunggangi Zarco, yaitu 342,8 km/jam.
Tetapi, dengan hasil seperti itu adalah wajar ketika Paolo Pavesio, managing director Yamaha Racing, yang menggantikan Lin Jarvis, memilih menarik squad Yamaha dari media debrief.
Meredam efek ocehan Fabrio Quartararo.
Seperti diketahui, pembalap Prancis itu sangat vocal. Apalagi dengan posisi ke-14 (yang semestinya ke-17) dikhawatirkan memberikan pernyataan destruktif yang menyerang teknisi tim Garputala. Hal yang tentunya sangat dihindari agar tidak terdengar oleh pihak sponsor.
Menjaga ‘marwah’ di depan tim satelit.
Dengan tahun kedua Pramac bersama Yamaha yang meninggalkan Ducati, tentunya menjadi hal yang perlu diadaptasi oleh Jack Miller, terlebih Toprak Ratzgatlioglu, yang masih dalam masa sulit untuk beradaptasi. Tentunya pernyataan yang buruk tentang mesin V4 akan mematahkan semangat mereka.
Transisi mesin V4 yang tampak lemah
Bertransformasi dari mesin inline 4 menjadi V4 adalah merupakan proyek besar yang dilakukan Yamaha, namun dengan melihat hasil di Thailand, seolah proyek tersebut masih sangat mentah, karena belum menunjukkan solusi yang instan. Bahkan Pavesio pun mengakui “Tak ada keajaiban, kami sedang mendaki gunung yang sangat tinggi.”
“Kami berada pada titik di mana kami melihat perbedaan yang memisahkan kami dari yang tercepat, dan kami memiliki tantangan besar yang harus dihadapi," ungkapnya lagi seperti dilansir Crash.Net.
Dengan menutup diri kepada media, tampak Yamaha hanya ingin segala informasi berasal dari satu pusat informas, yaitu Pintu Manajemen.
Bisa jadi, persoalan di Yamaha tidak hanya soal kecepatan yang perlu dikembangkan lagi, tetapi juga pudarnya identitas dari tim Garputala.
Jika beberapa waktu lalu mesin inline-4 keok di lintasan lurus, namun unggul di tikungan. Tetapi, dengan mesin V4, kelincahan khas Yamaha menghilang dengan kualitas pacu di lintasan lurus pun belum maksimal.
Tetapi, bisa kita tunggu saja kebijakan tutup mulut ini akan sampai berapa lama, akankah masih tetap sama setelah race di Eropa nanti, yang tentunya bisa jadi bumerang, ketika melunturkan kepercayaan para rider Yamaha atas mesin V4 ini. Kita lihat saja nanti! (*)










