Beminat Beralih Menggunakan Motor Listrik, Perhatikan Hal Ini
Ada beberapa perbedaan ‘kebiasaan’ yang dilakukan antara pengguna motor listrik dengan motor konvensional.

OTORIDER – Seiring naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), banyak orang berpikir untuk mengganti tunggangan kesehariannya dengan motor listrik.
Tentu, ada perbedaan antara kedua jenis kendaraan tersebut, apa saja yang perlu diperhatikan, ketika ingin meminang motor listrik? Ady Siswanto dari DyVolt EV di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur berbagi tips untuk calon pengguna baru motor listik.
“Tentunya, perlu diperhatikan kegunaannya seperti apa, misal hanya sekadar keliling kompleks, sebagai kendaraan yang mendukung kegiatan sehari-hari, harus ditetapkan di awal,” tukasnya.
Jadi, misalkan sebagai kendaraan sehari-hari untuk transportasi ke kantor, perlu tahu jarak tempuhnya, karena banyak motor listrik dijual dengan jarak tempuh berbeda-beda.
“Mulai dari 80 kilometer hingga hampir 200 km, jarak tempuh motor listrik saat ini sekali pengisian baterainya,” kata Ady.
Kalau digunakan ke kantor dengan jarak pulang pergi 60 km, supaya nyaman, pilih yang jarak tempuhnya 100 km, saja ungkap pengguna motor dan mobil listrik itu.
Karena masih dapat sisa jarak tempuh yang bisa digunakan setelah perjalanan rutin tersebut setiap harinya.
“Jadi kalau sepulang kantor kelupaan atau malas mengisi ulang baterainya, masih ada jarak yang lumayan untuk bisa digunakan lagi,” kata lelaki berperawakan sedang itu.
Nah, ketika sudah memiliki motor listrik, hendaknya perhatikan kondisi jalan yang selalu dilewati, meski tahan air, sebaiknya hindari keseringan melewati genangan air (jalan banjir).
“Biasanya, motor listrik yang sudah lewat setahun, sil penahan air pada motor listrik (model hub motor) yang tersambung dengan pelek sudah menurun daya tahannya, sehingga kemungkinan air bisa masuk ke dalam dinamonya,” kata lelaki yang sudah ‘main’ motor listrik sejak 2015 itu.
Kemudian, perhatikan juga perkabelannya, menurut Ady kemungkinan kabel rusak karena digigit tikus cukup besar, sehingga perlu pemeriksaan dan perawatan tiap 6 bulan, minimalnya.
“Selain kelistrikan dan kabel-kabel, juga sistem pengereman dicek saat service, kondisi baterai, dinamo dan controller juga diperiksa secara rutin,” katanya.
Jadi tidak perlu lagi ada biaya untuk beli oli, jasa ganti oli, yang mirip hanya pembelian kampas rem saja juga minyak remnya.
Memang ada sedikit perbedaan kebiasaan dengan menggunakan motor konvensional. (*)











