Berkendara Motor Saat Puasa, Kelelahan dan Kantuk Jadi Ancaman
Berkendara saat puasa membutuhkan perhatian ekstra. Kurang istirahat, kantuk, dan microsleep bisa memicu kecelakaan jika keselamatan diabaikan.

OTORIDER - Kurangnya waktu istirahat menjadi salah satu faktor utama menurunnya konsentrasi saat berkendara, khususnya selama menjalani ibadah puasa. Perubahan pola tidur akibat sahur dini hari dan aktivitas harian yang tetap padat membuat banyak pengendara mengalami kelelahan tanpa disadari.
Pengendara diimbau untuk lebih peduli terhadap kondisi tubuh dan menerapkan kebiasaan berkendara aman, terutama selama bulan Ramadan yang identik dengan perubahan pola tidur dan aktivitas harian.
Persiapan Diri Jadi Kunci Keselamatan Berkendara
Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani, menegaskan bahwa keselamatan berkendara tidak hanya bergantung pada keterampilan mengendalikan sepeda motor.
“Keselamatan berkendara tidak hanya soal keterampilan mengendarai sepeda motor, tetapi bagaimana pengendara mempersiapkan diri sebelum berangkat dan tetap waspada selama di jalan. Saat berpuasa, berkendara menuntut perhatian ekstra agar tetap aman,” ujar Agus Sani.
Menurutnya, kondisi fisik dan mental pengendara sangat memengaruhi kemampuan dalam mengambil keputusan di jalan, terutama saat menghadapi situasi darurat.
Kurang Tidur Picu Kantuk dan Microsleep
Selama Ramadan, siklus tidur sering kali terpotong karena harus bangun sahur serta menjalankan ibadah malam. Jika kondisi ini tidak dikelola dengan baik, risiko kelelahan meningkat.
“Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memicu rasa kantuk berlebih hingga microsleep yang sangat berbahaya,” jelas Sani.
Microsleep merupakan kondisi tertidur singkat dalam hitungan detik yang sering tidak disadari pengendara. Situasi ini sangat berisiko karena dapat menyebabkan kehilangan kendali kendaraan dalam waktu singkat.

Jaga Jarak Aman untuk Antisipasi Bahaya
Selain menjaga kondisi tubuh, disiplin menjaga jarak aman antar kendaraan menjadi hal krusial saat berkendara di bulan puasa. Konsentrasi yang menurun akibat lelah atau haus membuat waktu reaksi pengendara menjadi lebih lambat.
Dengan jarak aman yang cukup, pengendara memiliki ruang dan waktu lebih panjang untuk mengantisipasi pengereman mendadak atau perubahan situasi lalu lintas. Kebiasaan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri sekaligus pengguna jalan lain.
Jangan Paksakan Diri Saat Lelah
Agus Sani juga mengingatkan agar pengendara tidak memaksakan diri ketika kondisi tubuh sudah tidak prima.
“Saat sudah merasa lelah, mengantuk, atau kurang fokus, sebaiknya jangan memaksakan diri. Menepi dan beristirahat sejenak adalah keputusan bijak. Pastikan sahur dengan nutrisi cukup, minum air yang memadai, dan berkendara dengan kecepatan yang wajar agar tetap aman selama Ramadan,” tuturnya.
Keselamatan Adalah Kepedulian Bersama
Keselamatan berkendara bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap sesama pengguna jalan. Dengan persiapan yang baik, kesadaran diri, serta perilaku berkendara yang aman, risiko kecelakaan selama Ramadan dapat diminimalkan. (*)










