Harga Oli Naik Imbas Dolar Menguat, Bengkel Sarankan Konsumen Tak Fanatik Merek
Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah mulai berdampak pada harga sejumlah komponen dan kebutuhan perawatan sepeda motor.

OTORIDER — Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah mulai berdampak pada harga sejumlah komponen dan kebutuhan perawatan sepeda motor. Salah satu yang paling terasa adalah kenaikan harga oli mesin.
Pemilik bengkel JDM Project, Joddy Ario, mengakui pihaknya sudah melakukan penyesuaian harga paket servis akibat kenaikan biaya komponen pendukung.
"Sekarang ada kenaikan sekitar Rp 30 ribu untuk paket servis lengkap. Kalau sebelumnya untuk motor bebek dan matik 100 cc sampai 150 cc sekitar Rp 470 ribu, sekarang menjadi Rp 500 ribu," ujar Joddy kepada Otorider.
Meski harga oli mengalami kenaikan, Joddy menilai konsumen masih memiliki sejumlah alternatif untuk menekan biaya perawatan tanpa harus mengorbankan kualitas pelumas yang digunakan.
Menurutnya, pemilik motor sebaiknya kembali mengacu pada rekomendasi pabrikan yang tercantum di buku manual kendaraan.
Ia menilai masih banyak pengguna motor yang terlalu terpaku pada satu merek pelumas tertentu sehingga enggan melirik produk lain yang sebenarnya memiliki spesifikasi serupa.
"Kalau oli, sebaiknya kembali ke manual book. Biasanya ada konsumen yang membeli oli karena fanatik suatu merek. Kini bisa coba oli yang lebih terjangkau dengan angka SAE atau kekentalan yang sama," katanya.
Dengan mengikuti spesifikasi SAE yang direkomendasikan pabrikan, konsumen masih bisa mendapatkan perlindungan mesin yang sesuai tanpa harus selalu memilih produk premium yang harganya semakin mahal.
Joddy menambahkan, langkah tersebut dapat menjadi solusi sementara di tengah kenaikan harga berbagai komponen otomotif yang dipengaruhi fluktuasi nilai tukar mata uang asing. (*)











