Masukan kata kunci yang ingin Anda cari pada kotak diatas.

Tentang Kami
DisclaimerHubungi KamiInfo IklanKarirPeraturan Media SiberRedaksiTentang OtoriderPrivacy Policy
Telah hadir! Yuk download aplikasi Otorider sekarang juga!
Google Play
Hubungi Kami
Perkantoran Maisonete Mega Jalan Raya Joglo No. 41 Kebon Jeruk, Kembangan, Kota Jakarta Barat, Jakarta 11640
Email :
redaksi@otorider.com (Redaksi)
marketing@otorider.com (Marketing)
Member of :
Copyright © 2026. Otorider.com. All rights reserved.

Klarifikasi Rangka eSAF Honda di Mata Akademisi

Dipublikasikan : Jumat, 25 Agustus 2023 19:05
Penulis : Tim Otorider

Honda memberikan klarifikasi soal isu karat dan keropos pada rangka eSAF. Ternyata pandangan akademisi akan klarifikasi ini sangat mengejutkan!

Rangka ehanched Smart Architecture Frame (eSAF) tengah menjadi perbincangan di sosial media. Rangka yang digunakan pada Honda Genio, BeAT, BeAT Street, Scoopy, dan Vario 160 itu diduga mengalami karat hingga keropos, bahkan patah. Menanggapi hal ini, PT Astra Honda Motor (AHM) akhirnya memberikan klarifikasi.

Berdasarkan klarifikasi yang diberikan, AHM menyebut noda kuning di sekitar area rangka bukanlah karat, melainkan lapisan silicate. Hal ini dijelaskan oleh Ahmad Muhibbuddin selaku General Manager Corporate Communication AHM.

"Di pasar ada temuan bercak kuning pada sepeda motor Honda. Ada beberapa konsumen yang menemukan. Kami ingin menyampaikan bahwa bercak ini sebenarnya bukan karat, tapi lapisan silikat yang tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keropos," kata Muhib, sapaan Ahmad Muhibbuddin.

  Baca Juga: Segini Biaya Ganti Rangka eSAF Motor Honda, Termasuk Mahal?

Muhib menambahkan lapisan silikat ini memiliki fungsi melapisi hasil pengelasan dan juga bisa mencegah oksidasi. "Ini suatu hal normal dan tak berbahaya. Para pemilik motor Honda tidak perlu khawatir karena bukan karat dan tidak berpengaruh terhadap kenyamanan dan keamanan untuk sepeda motor baru," jelasnya.

Sementara itu, Subhan sebagai Manager Technical Service Division (TSD) AHM memberikan penjelasan mengenai timbulnya lapisan silikat ini. Ia mengungkapkan silicate tersebut bersifat isolator, artinya tidak dapat menghantarkan listrik. "Karena dia sifatnya isolator atau tidak bisa menghantarkan listrik, sementara proses pengecatan menggunakan elektrolisis, jadi enggak bisa nempel di lapisan silikat tadi," ujarnya.

Berkaitan lapisan silikat, OtoRider melakukan penelusuran mengenai teknik pencegahan korosi pada material baja, utamanya pada proses pengolahan dan pembuatan logam. Prof. Dr. Ir. Rini Riastuti, M.Sc sebagai ahli electrochemical and corrosion serta Guru Besar Departemen Teknik Metalurgi dan Material Universitas Indonesia mengedepankan persiapan permukaan (surface preparation) pascapengelasan sebagai langkah pencegahan terjadinya korosi.

  Baca Juga: Kasus Rangka eSAF, YLKI: Honda Harus Beri Ganti Rugi dan Kompensasi

“Rangka motor materialnya apa? (Proses produksinya, Red) Bending, las, plating begitu kan?” tanyanya pada awal diskusi dengan OtoRider. Menurutnya, persiapan permukaan itu penting dalam proses produksi dan pembentukan material. Proses diskusi kemudian dilanjutkan setelah beliau melihat foto dan spesifikasi rangka eSAF berikut beberapa gambar rangka yang sudah berkarat dan sempat viral.

Lebih lanjut, wanita berkacamata minus ini menyebutkan perlunya perlakuan pascapengerjaan (post treatment). “Setelah stamping (penekanan) dan welding (pengelasan) apakah dilakukan heat treatment untuk stress relieve (pelepasan tegangan)? Korosi bisa terjadi karena di bagian itu full stress (penuh tegangan) karena ada tekukan dan pengelasan,” paparnya. 

Proses heat treatment kemudian umumnya dilanjutkan surface preparation. “Karat itu sederhana, kok. Selama tidak ada air, aman. Artinya, 85-95% kerusakan karat atau katakanlah coating, itu karena surface preparationnya jelek,” sambung Prof. Dr. Ir. Johny Wahyuadi M Soedarsono, DEA, Guru Besar Departemen Teknik Metalurgi dan Material Universitas Indonesia dan ahli metallurgical engineering, corrosion & protection, metallurgical extraction dan mineral processing.

Lebih lanjut, disebutkan dalam klarifikasi Honda, bahwa warna coklat pada rangka merupakan tanda kehadiran silikat. Karakteristiknya disebut isolator dan merekat kuat pada logam. Karakter isolator itu pula yang membuat proses coating dengan metode Cathodic Electrodisposition (CED) tidak menempel di silikat berwarna coklat itu. 

“Sederhana saja, kita ambil sampel dan uji. Pakai EDX (Energy Dispersive X-Ray Analysis) atau apa. Kalau silikat pasti ada Si (Silikon), kalau karat, ya pasti Fe2O3. Mau di lab uji mana bisa. Di sini juga boleh, sudah ISO 17025, kok. Supaya tidak hanya perkiraan saja, tapi dibuktikan,” imbuh Johny.  

Uniknya, kedua dosen yang senantiasa bersentuhan dengan persiapan material sampai pencegahan korosi ini tidak menyebutkan kehadiran silika dan karat sebagai hal yang diinginkan. Kedua zat itu berusaha dihilangkan atau dikurangi pada proses persiapan permukaan material.

"Kalau memang dianggap silikat yang non-konduktif, artinya surface treatmentnya jelek. Saat surface treatment kan bertahap. Dari digerinda, amplas sampai pickling. Harusnya sudah hilang sebelum CED,” jelas Rini yang berkantor di kampus Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Depok, Jawa Barat. 

“Juga dengan adanya cathodic electrodeposition, bila surface preparationnya tidak baik akan jadi galvanic corrosion. Kalau surface preparation tidak sempurna, lapisannya ngeletek lepas, maka base material dengan cepat bereaksi dengan lingkungan, jadi korosi," pungkas Rini pada OtoRider.

Maka, klarifikasi yang dilakukan Honda terhadap isu mengenai rangka eSAF ini bertolak belakang dengan pandangan akademisi. Kehadiran silikat yang diklaim aman saat klarifikasi, menurut akademisi justru perlu dihilangkan. 

 

Tag
Dapatkan update berita pilihan dan terbaru setiap hari dari otorider.com. Ikuti Channel kami pada tombol dibawah ini.
Telah hadir! Yuk download aplikasi Otorider sekarang juga!
Google Play

Trending

#1

Harga Pertamax dan Pertamax Turbo Turun Awal Februari 2026, Ini Rinciannya

#2

Update Harga Yamaha Nmax Turbo dan Tech Max Februari 2026, Ini Daftarnya

#3

Masuk Segmen Entry-Level Premium, Triumph Lepas Speed 400 Rp 158,4 Juta

#4

Update Harga Honda Scoopy Februari 2026, Mulai Rp 22,8 Jutaan

#5

Kekosongan BBM di SPBU Shell Jadi Sorotan, Kapan Segera Normal?

Terbaru

Berita| 6 jam yang lalu

Honda Ramaikan IIMS 2026 dengan Promo Motor Konvensional dan Listrik

Honda bersama PT Wahana Makmur Sejati menghadirkan berbagai promo pembelian sepeda motor konvensional dan listrik di IIMS 2026,

Berita| 7 jam yang lalu

GALERI FOTO: Suzuki DR-Z4SM, Moge Supermoto yang Siap Masuk Indonesia

Sebagai catatan, motor ini merupakan salah satu dari dua model baru keluarga DR-Z yang ditampilkan oleh Suzuki Motor Corporation di ajang EICMA 2024

Berita| 8 jam yang lalu

KTM Resmi Hadirkan RC 990 R dan 1390 Super Adventure S Evo di IIMS 2026

Dua model yang diperkenalkan merupakan representasi dari performa ekstrem dan teknologi mutakhir KTM. Di mana ada tipe RC 990 R dan 1390 Super Adventure S Evo.

Sport| 9 jam yang lalu

Bimota Hadir Untuk Musim Keduanya di Ajang WorldSBK

Tim pabrikan yang berbasis di Rimini ini kembali dengan duo pembalap andalannya, Axel Bassani (bimota by Kawasaki Racing Team) dan rekan setimnya, Alex Lowes.

Berita| 10 jam yang lalu

Selisih Rp 20 Juta, Apa Beda Triumph Speed 400 vs Scrambler 400 X?

Dengan mesin sama, Triumph Speed 400 ditawarkan Rp 158,4 juta, sementara Scrambler 400 X dibanderol Rp 178,5 juta on thebroad DKI Jakarta. Lalu apa bedanya?

Beranda Trending Motor Listrik