Performa Apik Quartararo Jadi Penyebab Vinales Tinggalkan Yamaha?

Performa Apik Quartararo Jadi Penyebab Vinales Tinggalkan Yamaha?

 

Keputusan Maverick Vinales berpisah dengan Monster Yamaha di penghujung musim MotoGP 2021 masih menjadi perbincangan hangat. Sejumlah rumor pun beredar mengenai alasan utama perpisahan Vinales dengan tim pabrikan Yamaha tersebut. Terbaru, Vinales dikabarkan hengkang karena bayang-bayang penampilan apik rekan setimnya, Fabio Quartararo.

Hingga paruh pertama musim 2021, Quartararo kini menempat posisi pemuncak klasmen perebutan gelar juara dunia. Sementara itu, Vinales berada di tempat ke-6 dengan raihan 95 poin, selisih 61 poin dari Quartararo. Kevin Schwantz yang merupakan mantan rider legendaris Suzuki sekaligus legenda MotoGP turut memberikan komentarnya.

   Baca Juga: Indikator Bensin Honda BeAT 2020 Berkedip, Berapa Banyak Sisanya?

"Melihatnya (Vinales) di posisi terakhir dengan pabrikan Yamaha di Jerman saat Fabio Quartararo finis ketiga dalam balapan sungguh luar biasa. Dengan pabrikan Yamaha! Dan seminggu kemudian, dia menjadi yang tercepat di setiap sesi di Assen, dia mendapat pole position dan hanya dikalahkan oleh Fabio di balapan tersebut," ujar Schwantz dikutip dari PaddockGP.

Francesco Bagnaia, Maverick Vinales, Fabio Quartararo, Miguel Oliveira, dan Valentino Rossi

Schwantz menambahkan, Vinales dan Quartararo lebih cepat dari yang lain saat berlaga di Assen, Belanda. Sehingga, menurutnya sebuah motor tak akan dengan cepat berubah hanya dalam waktu seminggu. Oleh sebab itu, motor dinilainya bukan faktor utama penyebab Vinales tampil tak konsisten.

   Baca Juga: Tak Mau Buru-Buru, Petronas Yamaha Tunggu Keputusan Rossi

"Sebuah motor tidak berubah dari mesin tempat terakhir menjadi motor pemenang dalam satu minggu. Dia bisa naik dari tempat kelima atau keenam ke tempat pertama. Tapi motor balap tidak bisa sejauh itu dalam beberapa hari dan menjadi kompetitif. Fabio menunjukkannya. Dia finis ketiga di Jerman dan pertama di Belanda," kata Schwantz.

Schwantz menambahkan, tak cukup hanya menjadi pembalap yang baik di MotoGP. "Anda juga harus kuat di segi mental. Jika pria di sebelah Anda menang dan memimpin kejuaraan, Anda dapat dengan mudah sedih atau putus asa. Kemudian Anda merasa hancur dan dipukuli. Tapi Anda tetap harus fokus pada pekerjaan Anda, manfaatkan sebaik-baiknya dan lakukan yang terbaik hingga akhir tahun," ucapnya.

 
 
 
Daftarkan diri Anda untuk
mendapatkan informasi terkini mengenai mobil.
 

Bus-truck.id